SEKILAS MELIHAT SISTEM PRADILAN DILUAR NEGRI

Bagaimanakan sisitem pradilan di Luar Negri , apakah lebih baik jika dibandingkan dengan system pradilan di negri ini, apakah sisitem pradilan yang berlaku di suatu negri dapat meningkat kan kepercayaan bagi orang-orang yang mencari keadillan

Tulisan ini bukan untuk membandingkan, tetapi hanya sekedar melihat sekilas saja pradilan di luar negri, tentu kita sendiri yang bisa merasakan sesuai atau tidaknya pradilan yang sedang berlaku di negri ini, jika putusan pradilan itu tidak memuaskan pencari keadilan, apakah sistemnya yang salah ataukah manusia yang jalankannya yang salah, apakah  keadilan sudah tidak bisa didapatkan di negri ini, untuk itu perlu kita melihat bagaimanakah system pradilan di negri lain.

Pradilan di Luar Negri selain  dari pada Hakim-HaKim, ada suatu badan yang orang-orangnya terdiri dari   partekelir/masyarakat umum dan biasanya bukan ahli hukum, dalam memeriksa dan mengadili orang yang sedang di dakwakan. Peradilan semacam ini disebut dengan Pradilan memakai Juri. Biasanya Hakim dalam menentukan seseorang itu bersalah atau tidaknya , tetapi dalam pradilan memakai juri, orang umum yang ditunjuk sebagai juri juga bisa menentukan orang itu bersalah atau tidaknya , ya mungkin saja hasil keputusan yang dijatuhkan kepada si terdakwa dapat memuaskan semua pihak.

Setelah melalui proses tahahapan persidangan . Pendapat Juri diajukan dalam bentuk suara dan menentukan salah tidaknya siterdakwa, mana suara juri yang terbanyak, bersalah atau tidak. Jika suara Juri lebih banyak menyatakan bersalah maka siterdakwa akan dijatuhi hukuman, jika kebalikannnya maka siterdakwa dinyatakan bebas. Akan tetapi untuk menentukan berat ringannya hukuman adalah Hak Mutlak dari Para Hakim.

Beberapa Negara yang menganut Pradilan Juri:               

Inggris, Amerika Serikat,Australia,Prancis, Scotlandia, dan Belanda pernah sebentar menggunakan Pradilan Juri, tetapi sekarang sudah kembali Pradilan seperti Indonesia.

Di Prancis Pradilan memakai Juri ini mulai berlaku sejak selesainya Revolusi Prancis. Sikap Pradilan memakai Juri nini terus berlaku di Prancis,  hal ini dapat difahami karena salah satu cita-cita revolkusi Prancis adalah Prombakan dalam sisitem Pradilan. Sebelum Revolusi Prancis , Prancis mengenal Pradilan dimana Raja atau alalt-alatnya bertindak men jatuhkan hukuman kepada terdakwa.

Di Pradilan model ini Pedmeriksaan kepada terdakwa dilakukan  secara tertutup, pradilan semacam ini social kontrolnya tidak dapat dilakukan, tentu masyarakat mencurigainya, barang tentu keputusan yang dijatuhkan kepada terdakwa tidak sesuai lagi dengan keadilan, keadilan sudah diselewengkan, diperjual belikan, pencari keadilan tidak merasa puas bahkan di curangi. Maka dengan sejarah buruk pradilan di Prancis melahirkan revolusi Prancis salah satu cita-citanya merombak system pradilan.

Dalam sisitem pradilan juri, biasanya juri terediri dari 12 orang, tiap kali dibentuk apabila ada perkara yang akan diadili . Di Amerika Serikat pada setiap Pengadilan ada daftar nama-nama penduduk pria dan wanita yang pantas akan dijadikan

Bahwa daftar calon para Juri-juri tidak sama pada setiap Pengadilan, hal mana tergantung pada banyaknya jumlah penduduk menurut daerah dipradilan masing-masing.

Di Amerika Serikat dengan Inggris sama sistemnya, setiap kali ada perkara yang akan di sidangkan dipilih lah Juri 12 orang, yang memelih Jaksa dan Pembela masing-masing 6 orang. Di Inggris dikenal 2 macam Kejahatan yaitu :

  1. Indictable Offence, perkara ini bersidang memakai Juri, karena Kejahatan ini termasuk kejahatan berat, seperti pembunuhan, perampokan dan lain-lain.
  2. Summary Offence, perkara ini berfsidang tanpa Juri, karena dianggap kejahatan ringan, seperti mencuri ayam atau pelanggaran lalu lintas.

Juri hanya menentukan apakah tertuduh itu bersalah atau tidak, sementara hakimlah yang berwenang menentukan berat ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada si terdakwa.

Kalau di Indonesia syarat untuk menjadi Hakim harus  berpendidikan Sarjana Hukum, lain halnya di pradilan sitem Juri, dipersyaratkan antara lain:  Berkelakuan baik, tidak pernah dihukum, dikenal jujur, sopan santun, dan bijaksana .

Pradilan di Negri ini sudah baik, Penguasa tidak mencampurinya, Pradilan indenpenden, undang-undang sudah mengatur sedemikian rupa, sehingga pihak manapun tidak dapat mencampuri urusan produk putusan yang dilahirkan oleh Pradilan.  Namun sejauh manakah pentrapannya dalam prakteknya? Pradilan di negri ini sudah mulai  dimasuki roh-roh jahat, hakim yang seharus indenpenden tidak kuat berdiri dikakinya, sehingga putusan-putusannya  tidak jarang sedikit sekali kadar keadilannya.

Begitu juga penegak Hukum lainnya seperti Jaksa maupun Kepolisian sebagai pejabat penyidik, sebagai Negara Hukum bisakah ini dibenarkan, alangkah malunya kita dengan  Pancasila sebagai payung Hukum Negri ini. Jika keadilan itu terus menerus tidak bisa lagi didapatkan di Negri ini, apakah mungkin revolusi hukum khususnya pradilan menjadi pilihan rakyat ini, hanya waktulah  yang dapat menjawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *