Jual beli Hak Atas Tanah

Dalam era pembangunan saaat ini kebutuhan atas tanah terus meningkat, industry   property atau pusat perbelanjaan modern terus mencari  tanah-tanahnyang stretegis  untuk dijadikan kawasan yang modern dan mandiri. Untuk itu harga-harga tanahpun melambung. Apalagi Jakarta saat ini telah menjadi pusat perhatian para investor,  Jakarta sangat layak untuk  mengembangkan usaha apa saja, karena di Jakarta persentase putararan ekonomi cukup tinggi. Oleh karena itu transaksi jual beli hak atas tanah di Jakarta ini meningkat pesat.

Apakah kita sipembeli mau, jika transaksi jual beli hak atas tanah,  uang sudah dibayarkan, akan tetapi hak itu tidak berpindah. Undang-undang pokok agraria akan memberikan kepastian hukum, apabila perbuatan hukum yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak sesuai dengan ketentuan undang-undang.

Jual beli hak atas tanah mengakibatkan beralihnya hak dari sipemilik tanah,pindah  ke si pembeli tanah, siapakah yang menjamin peralihan atau perpindahan hak itu ? Setiap peralihan hak atas tanah, harus dihadapan Pejabat Pembuat akta Tanah (PPAT) demikian jaminan Undang-undang kepada  orang-orang yang melaksanakan transaksi pralihan hak atas tanah, sepanjang peralihan itu dihadapan pejabat pembuat akta tanah perpindahan hak itu pasti dijamin.

 Bagaimana dengan jual beli hak atas tanah, sementara Undang-undang Pokok Agraria ( UUPA) No.5 Tahun 1960, tidak memberikan pengertian  dengan jelas tentang jual beli hak atas tanah. Walaupun UUPA tidak menjelaskan tidak masalah, karena UUPA memakai system dan azas-azas hukum adat. Dalam hukum adat jual beli tanah itu diartikan perbuatan hukum yang berupa penyerahan hak milik        ( penyerahan tanah untuk selama-lamanya) oleh penjual kepada si pembeli.

Bagaimana jual beli tanah yang sudah bersertifikat dan tanah yang belum  bersertifikat.

  1. Tanah yang dijual sudah bersertifikat.  Jual beli tanah yang sudah bersertifikat lebih mudah, jika dibandingkan dengan tanah-tanah yang belum meiliki sertifikat. Si penjual  membawa sertifikat dan si pembeli telah menyiapkan sejumlah uang akan dibayarkan, lalu mereka  datang ke kantor Pejabat Pembuat akta Tanah yang berwenang membuat akta tanah yang akan dijual itu, jika yang berkepentingan karena sesuatu hal tidak dapat hadir dihadapan PPAT, maka boleh ditunjuk orang lain sebagai kuasanya. Si penjual harus yang berwenang sebagai subjek si penjual tanah, bukti-bukti kepemilikannya sesuai identitasnya dengan subjek yang disebutkan dalam bukti sertifikat. Biasanya jika PPAT itu ragu atas subjek kepemilikan tanah itu, dalam pembuatan akta tersebut disaksikan oleh Kepala Desa ditempat tanah yang akan di perjaul belikan itu. Kepala Desa ini bukan saja sebagai saksi, melain dapat menerangkan  bahwa tanah yang di jual belikan memang benar-benar dari milik  si penjual tanah.

Kewajiban si penjual membawa sertifikat kehadapan PPAT, adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya  jual tanah ber ulang kali dan PPAT harus bisa memastikan bahwa tanah yang akan dijual itu adalah benar-benar milik dari si penjual yang datang dihadapannya.   Biasanya si penjual tanah itu telah menyiapkan surat silang sengketa dari Kepala Desa dimana tempat tanah itu yang akan diperjual belikan. Jika persyaratan yang diperlukan menurut PPAT dipandang sudah cukup, maka PPAT membuat akta jual beli  setelah dibacakan dan keduabelah pihak telah mengerti dengan akta yang dimaksudkan, maka dilaksanakan pembubuhan tanda tangan kedua belah pihak dengan dihadiri oleh dua orang saksi, selanjutnya tinggal tugas PPAt untuk mendaftarkan ke Kepala Kantor Pertanahan setempat, dengan demikian maka peralihan hak dari si penjual ke pembeli telah terjadi.,

  1. Tanah yang dijual belum bersertifikat.

Tanah yang belum bersertifikat, jika ingin dijual di kantor PPAT, maka tanah itu terlebih dahulu diuruskan sertifikatnya, karena PPAT tidak akan melayani peralihan hak atas tanah yang tidak disertakan sertifikat. Apa dasar hak kepemilikan hak atas tanah yang akan kita jual itu, apakah girik, surat izin garap atau hibah adat. Di buku desa harus jelas tergambar atas kepemilikan kita itu, luasnya, perbatasnnya dapat dilihat dipeta rincik desa. Jika kita ingin cepat menjual tanah tersaebut dengan kondisi bukti-bukti yang ada, tetap saja bisa dilakukan, tetapi harga lebih murah jika dibandingkan dengan tanah yang bersertifikat, karena si pembeli sudah menghitung pembenanan biaya sertifikat terhadap nilai jual tanah itu.,

 Jual beli tanah yang belum bersertifikat, secara hukum hak milik itu juga ikut berpindah disaat transaksi  itu dilakukan dan biasanya cukup dilakukan di desa dan sipembelilah nantinya akan berurusan dengan pihak PPAT untuk mendaftarkan peralihan hak atas tanah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *