Jika Kejahatan Dilakukan Secara Berjamaah

Dalam satu dasa warsa belakangan ini, banyak kejahatan dilakukan oleh lebih dari satu orang,kejahatan yang melibatkan orang banyak  yang terlibat dalam peristiwa pidana itu, apakah kejahatan  pembunuhan, pencurian, tindak pidana ekonomi atau korupsi. Hampir semua kejahatan itu terbuka dilakukan oleh lebih dari satu orang.

Sungguh memalukan sekali, selaku bangsa yang sangat relegius, berbudaya tinggi, punya budaya  rasa malu, namun untuk melakukan kejahatan rasa malu, keimanan tidak dihiraukan lagi, yang penting apa yang diinginkan sudah didapat. Kejahatan yang bertujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain sedang marak-maraknya, mulai pejabat tinggi Negara sampai pejabat daerah, terseret kejahatan korupsi yang  meperkaya diri sendiri akhirnya menjebloskan dirinya masuk kedalam penjara.

Melihat geografis negri ini, sumber alamnya yang berlimpah menurut para ahli , Negara ini seharusnya sudah lama makmur, rakyat seharusnya sudah lama sejahtera, tetapi kenapa negri ini masih terus tertinggal pembangunannya dibandingkan dengan Negara tetangga Malaysia, Singapura, Thailand, yang incam perkapita pendapatan rakyatnya jauh diatas negri ini, dimanakah yang salah dengan negri ini? Apakah pemimpinya atau systemnya atau mungkin manusianya.

Pendidikan dan pemahaman agama ini punya peranan penting dalam membuat maju mundurnya keadaan dalam suatu negri. Kejahatan korupsi  secara umu mdilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi, bahkan orang yang tingkat ekonominya cukup tinggi, tetapi kenapa kejahatan korupsi ini masih tetap dilakukannya? Hypotesa sementara bahwa kejahatan korupsi itu dilakukan karena rendahnya pemahaman terhadap agama yang dianutnya.

Yang sungguh mengherankan kita sekarang ini, bahwa  kejahatan korupsi  itu dilakukan selalu berjamaah dan melibatkan orang banyak. Bagaimana  KUHP melihat kejahatan-kejahatan yang dilakukan secara berjamaah? , dalam perakteknya kejahatan ini ada pelaku utamanya, ada yang membantu, bahkan ada yang tidak tahu menahu, tetapi tetap terseret juga dalam peristiwa ini. Bagaimanakah pandangan hukum terhadap pertanggung jawaban masing-masiang perserta dalam peristiwa hukum yang dilakukan secara berjamaah ini.

Bagaimanakah Hukum membedakan antara pembuat utama(daders) dengan orang yang turut serta melakukan perbuatan itu (deelnemings). Bagaimanakah hubungan masing-masing peserta dalam melakukan tindak pidana  (delict). Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Daders atau deelnemings?

Pelaku kejahatan (Daders) adalah barang siapa melakukan yang memenuhi semua unsur-unsur dari suatu peristiwa pidana ( delict), jika semua unsur-unsur peristiwa pidana itu dipenuhinya  maka disebutlah dia sebagai daders atau pelaku.

Untuk melihat Hubungan peserta terhadap suatu per buatan kejahatan ( delick) ada beberapa  macam bentuk :

Orang bersama-sama  melakukan delick/peristiwa pidana

  1. Mungkin seorang saja yang punya kehendak dan merencanakan delict itu, tetapi delick itu tidak dia sendiri melakukan, dia menyuruh orang lain untuk melakukannya.
  2. Dapat saja terjadi dia sendiri yang melakukan delick itu, sementara orang lain hanya membantu saja.

Hubungan orang terhadap delick itu dapat berbagai macam bentuk, maka inti dari dari pada deelneming itu bertitik tolak kepada untuk menentukan pertanggung jawaban seseorang terhadap suatu delick yang telah terjadi.

Dalam Ilmu Hukum Pidana pengertian  deelneming itu dapat dibagi dalam 2(dua) macam bentuk:

  1. Deelneming yang berdiri sendiri, dalam bentuk ini pertanggung jawaban daripada tiap-tiap peserta dihargai sendiri-sendiri.
  2. Deelneming yang tidak berdiri sendiri, deelneming dalam bentuk ini pertanggung jawab peserta yang dari pada peserta yang satu dicantumkan kepada perbuatan peserta yang lain. Artinya apabila oleh peserta yang lain dilakukan dari suatu perbuatan yang dapat dihukum, maka perserta yang satu dapat dihukum juga.

Pasal 55 KUHP (1).  Dihukum sebagai pelaku dari perbuatan yang dapat dihukum              

1.   Orang yang melakukan  yang menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan itu.

2. Orang yang dengan pemberian upah , janji-janji yang menyalah gunakan kekuasaan kedudukan, paksaan, ancaman, tipuan atau memberikan  kertempatan , ikhtiar atau keterangan dengan sengaja membujuk supaya perbuatan itu dilakukan.  I

(2).  Adapun tentang orang yang dalam sub 2 itu, yang boleh dipertanggung jawabkan kepadanya hanyalah perbuatan yang sengaja dibujuk oleh mareka serta akibat perbuatan itu.

Pasal 56 : Sebagai pembantu melakukan kejahatan dihukum.

1. Orang yang sengaja membantu waktu kejahatan itu dilakukan
2.Orang yang sengaja memberi kesempatan ikhtiar atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu.

Kejahatan secara berjamaah atau suatu kejahatan yang dilakukan lebih dari beberapa orang, apakah korupsi berjamaah, penipuan berjamaah atau kejahatan lainnya, hukum akan memisahkankan siapa pelaku utama, siapa yang menyuruhnya, siapa yang turut serta ikut melakukan, dan orang-orang yang memberikan kemudahan, keterangan, kesempatan semua dapat dijerat oleh hukum dan mereka adalah orang yang pantas dihukum, karena merugikan orang lain, Negara dan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *